Berdiri Tegak dan Tegar Sebuah Sekolah Bawah Jurang
Berdiri Tegak dan Tegar Sebuah Sekolah
Bawah Jurang
Pendidikan di Indonesia sudah
cukup dilirik dari segi pembangunan, terutama di salah satu kabupaten di
Provinsi Bengkulu yaitu Kabupaten Lebong, sekolah-sekolah baru mulai didirikan
di beberapa daerahnya, seperti salah satu sekolah negeri ini, SMKN 4 Lebong. Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri ini, awalnya dibangun dengan fasilitas yang masih
kurang memadai dengan statusnya yang masih baru. Meskipun masih sangat baru, ternyata
banyak juga siswa yang mendaftar di sini, sekolah ini cukup menarik minat siswa
karena jurusan yang ditawarkannya yaitu perawat, farmasi, dan listrik.
Kepala sekolahnya seorang
perempuan, beliau sering dipanggil Ibu Santi, badannya cukup pendek, ciri
khasnya menggunakan sepatu hak tinggi, kulitnya hitam manis, ialah yang menjadi
orang yang paling diingat oleh warga sekolah terutama karena kedekatannya dengan
siswa. Beliau mendirikan sekolah dengan penuh perjuangan, meskipun sekolah ini
milik pemerintah, Ibu Santi yang sebenarnya berasal dari keluarga yang bisa
dibilang mampu, tidak segan mengeluarkan uangnya untuk mengisi
kekurangan-kekurangan yang ada di sekolah baik dari segi fasilitas ataupun kekurangan
lainnya.
Kendala-kendala sering
dirasakan oleh sekolah baru ini, terlebih dalam pemberian gaji para guru-guru
honorer atau guru tenaga kerja kontrak yang masih bergantung pada uang sekolah
siswa. Namun beliau tidak pernah membiarkan orang-orang disekitarnya kesusahan,
tidak ingin pula mendesak siswa yang telat membayar uang sekolah. Lagi-lagi
beliau tanpa berpikir panjang mengeluarkan biaya dengan inisiatifnya sendiri untuk
sekolah.
Sudah banyak sekali bantuan
yang diberikan beliau, karena baginya sekolah bukan hanya tempat siswa belajar,
ataupun hanya tempat guru mengajar, tapi sekolah seperti bagian dari dirinya,
ia menganggap siswa dan guru-guru disana sudah seperti keluarganya. Setelah
beberapa tahun dan melalui banyak tantangan, kemajuan dapat dirasakan, dana
dari pemerintah pun juga sudah mulai berdatangan, tentu dengah syarat-syarat
yang harus terpenuhi untuk mendapatkan dana.
Sudah banyak perkembangan dari
sekolah ini berkat kerja keras beliau selama menjadi kepala sekolah. Banyak tantangan
yang harus dihadapinya, begitupun siswa-siswanya hingga bisa seperti sekarang
ini. Hujatan-hujatan yang didengar dari luar sudah biasa sekali dihadapi.
Terlebih siswa-siswa sering pula mendapati teman-teman yang meremehkan sekolah,
ada yang berkata kumpulan siswa-siswa bawah jurang, panggilan ini muncul karena
letak sekolah yang turun ke bawah, padahal sebenarnya tentu sekolah dibangun di
tempat yang datar. Lain pula saat musim hujan, ejekan sekolah dengan tanah
kuning seringkali dilontarkan dan berbagai macam ungkapan-ungkapan lainnya.
Setelah melewati berbagai
rintangan bersama, seluruh warga sekolah, malah semakin bersemangat dan semakin
cinta dengan sekolahnya. Tak lupa alumni-alumni yang baru berapa angkatan itu
selalu merasa senang, seakan diminta pulang ke rumah kedua mereka ketika datang
lagi ke sekolah. Banyak hal yang telah dilalui sekolah yang katanya sekolah
bawah jurang ini, namun hal itu tidak mematahkan semangat Ibu Santi dan warga
sekolahnya. Meskipun masih baru, sekolah ini sudah memiliki banyak prestasi, selalu
aktif mengikuti berbagai perlombaan, organisasi, dan kegiatan-kegiatan yang
diadakan oleh pemerintah. Hingga akhirnya dapat dikenal dengan baik oleh
masyarakat luas.

Komentar
Posting Komentar