Berdiri Tegak dan Tegar Sebuah Sekolah Bawah Jurang

 

Berdiri Tegak dan Tegar Sebuah Sekolah Bawah Jurang





 Vita Alfina

       Pendidikan di Indonesia sudah cukup dilirik dari segi pembangunan, terutama di salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu yaitu Kabupaten Lebong, sekolah-sekolah baru mulai didirikan di beberapa daerahnya, seperti salah satu sekolah negeri ini, SMKN 4 Lebong. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri ini, awalnya dibangun dengan fasilitas yang masih kurang memadai dengan statusnya yang masih baru. Meskipun masih sangat baru, ternyata banyak juga siswa yang mendaftar di sini, sekolah ini cukup menarik minat siswa karena jurusan yang ditawarkannya yaitu perawat, farmasi, dan listrik.

       Kepala sekolahnya seorang perempuan, beliau sering dipanggil Ibu Santi, badannya cukup pendek, ciri khasnya menggunakan sepatu hak tinggi, kulitnya hitam manis, ialah yang menjadi orang yang paling diingat oleh warga sekolah terutama karena kedekatannya dengan siswa. Beliau mendirikan sekolah dengan penuh perjuangan, meskipun sekolah ini milik pemerintah, Ibu Santi yang sebenarnya berasal dari keluarga yang bisa dibilang mampu, tidak segan mengeluarkan uangnya untuk mengisi kekurangan-kekurangan yang ada di sekolah baik dari segi fasilitas ataupun kekurangan lainnya.

       Kendala-kendala sering dirasakan oleh sekolah baru ini, terlebih dalam pemberian gaji para guru-guru honorer atau guru tenaga kerja kontrak yang masih bergantung pada uang sekolah siswa. Namun beliau tidak pernah membiarkan orang-orang disekitarnya kesusahan, tidak ingin pula mendesak siswa yang telat membayar uang sekolah. Lagi-lagi beliau tanpa berpikir panjang mengeluarkan biaya dengan inisiatifnya sendiri untuk sekolah.

       Sudah banyak sekali bantuan yang diberikan beliau, karena baginya sekolah bukan hanya tempat siswa belajar, ataupun hanya tempat guru mengajar, tapi sekolah seperti bagian dari dirinya, ia menganggap siswa dan guru-guru disana sudah seperti keluarganya. Setelah beberapa tahun dan melalui banyak tantangan, kemajuan dapat dirasakan, dana dari pemerintah pun juga sudah mulai berdatangan, tentu dengah syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk mendapatkan dana.

       Sudah banyak perkembangan dari sekolah ini berkat kerja keras beliau selama menjadi kepala sekolah. Banyak tantangan yang harus dihadapinya, begitupun siswa-siswanya hingga bisa seperti sekarang ini. Hujatan-hujatan yang didengar dari luar sudah biasa sekali dihadapi. Terlebih siswa-siswa sering pula mendapati teman-teman yang meremehkan sekolah, ada yang berkata kumpulan siswa-siswa bawah jurang, panggilan ini muncul karena letak sekolah yang turun ke bawah, padahal sebenarnya tentu sekolah dibangun di tempat yang datar. Lain pula saat musim hujan, ejekan sekolah dengan tanah kuning seringkali dilontarkan dan berbagai macam ungkapan-ungkapan lainnya.

       Setelah melewati berbagai rintangan bersama, seluruh warga sekolah, malah semakin bersemangat dan semakin cinta dengan sekolahnya. Tak lupa alumni-alumni yang baru berapa angkatan itu selalu merasa senang, seakan diminta pulang ke rumah kedua mereka ketika datang lagi ke sekolah. Banyak hal yang telah dilalui sekolah yang katanya sekolah bawah jurang ini, namun hal itu tidak mematahkan semangat Ibu Santi dan warga sekolahnya. Meskipun masih baru, sekolah ini sudah memiliki banyak prestasi, selalu aktif mengikuti berbagai perlombaan, organisasi, dan kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh pemerintah. Hingga akhirnya dapat dikenal dengan baik oleh masyarakat luas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arif Kurniawan Meraih Juara Cipta Cerpen di Peksiminas 2022

Opini : Lunturnya Rasa Bangga Terhadap Bahasa Daerah

Pertama Kali Ikut Lomba Fotografi Hitam Putih, Muhammad Riski Arifan Langsung Raih Juara Tingkat Nasional