Cerita Pendek "Bayangan Kelabu"" Karya Vira Aulia

 Bayangan Kelabu

Vira Aulia

Hari sudah semakin siang dan sinar matahari semakin terik. Tetapi tentunya ini tidak menjadi alasan untuk mengeluh untuk mencari recehan uang untuk menjadi puluhan ribu uang di hari ini. Mencari barang bekas, itulah pekerjaan setiap hari yang dilakukan. Tong sampah demi tong sampah, jalanan, bahkan tempat pembuangan akhir sampah. Itu bukanlah sampah, melainkan menjadi sesuap nasi disetiap hari untuk keluarga. Hidup dengan keluarga kecil dengan istri dan kedua anak yang dianugrahkan tuhan yang paling hebat untuk saya. 2 anak yang bernama ratih dan nissa cukup membuatku harus selalu pantang menyerah untuk mereka untuk masa depannya.

"ayah, apakah hari ini kita akan makan?" tanya mereka, "tentu saja nak, kita akan makan nasi dan lauk enak hari ini" jawabku.

Mendengar jawabanku, mereka langsung tersenyum dan menjawab "baik ayah" ucap mereka bersama

***

Tepat pada hari ini Ratih sudah memasuki sekolah menengah atas. Ia bisa melanjutkan sekolah berkat prestasi yang ia peroleh sehingga mendapatkan beasiswa penuh selama 3 tahun kedepan untuk bersekolah di sini. Proses yang panjang dan cukup melelahkan yang  Ratih lewati untuk mendapatkan hasil yang ia dapatkan. Sekolah dengan media serba kekurangan untuk ia belajar karena aku sebagai ayah tak sanggup menyediakan fasilitas belajarnya seperti buku-buku, bahkan seperti laptop pun tidak bisa disediakan. Tapi, aku yakin anakku pasti bisa menggapai cita-citanya dengan serba kekurangan ini. Hanya doa yang bisa ku kirim disetiap sujud untuk anak-anakku. Hari demi hari terlewati dengan penuh rintik-rintik hujan bahkan badai di tengah hari yang cerah. Setelah pulang kerumah, melihat anak-anakku sedang bersendau gurau bersama dan melihat tawa candanya membuat rasa lelah ku menjadi pudar. Akhirnya nisa melihat keberadaanku dan mereka datang menghampiri.

"Ayah, ibu sudah masak hari ini. Ayo kita makan ayah" ucap nisa sambil menarik tanganku. Aku yang tertawa langsung ikut kemana nisa menarik tangan ini dan tibalah di ruangan yang sempit tetapi cukup untuk menjadi tempat beristirahat keluarga ini. Mereka banyak bercerita untuk hari ini, istriku yang bercerita hari ini ia banyak mendapatkan upah buruh cucinya, Ratih yang bercerita bahwa ia minggu depan akan lomba olimpiade matematika se-kota Bengkulu, dan nisa yang berkeluh bahwa ia banyak mendapatkan PR hari ini. Kita semua tertawa dengan kesederhanaan ini tetapi banyak kebahagiaan yang kami dapatkan nanti. Semoga saja nasib anak-anakku tidak sekelabu hidupnya seperti saat ini, tetapi bayangan inilah yang harus mereka jadikan semangat untuk memperbaiki masa depannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arif Kurniawan Meraih Juara Cipta Cerpen di Peksiminas 2022

Opini : Lunturnya Rasa Bangga Terhadap Bahasa Daerah

Pertama Kali Ikut Lomba Fotografi Hitam Putih, Muhammad Riski Arifan Langsung Raih Juara Tingkat Nasional